Subuh di Medan

September 14th, 2007 by justicevoice

alhamdulillah …..sahur di medan neh.
setelah perjalanan dari kantor….. rumah…. bandara adisucipto… sukarno hata…. polonia medan… hotel garuda palza medan…..

hu hu hu hari yang menegangkan. gimana enggak….di kantor aku hampir gak izin karena atasanku rapat ampe jam kantor habis. (uh… bos besar seh nggak tahu aku ke medan moga aja gak nyari….). Pulang agak nelat dari kantor aku harus kebut-kebutan nganter temen pulang and langsung ke kontrakan kakakku di Andaluzzi (wah makasih ya Mah udah nyiapin baju dll. Kalo nggak bisa-bisa cuma baju di badan yang aku
bawa). Beberapa detik nyiapin baju yang udah di pack ama kakak, aku langsung mabur dari kontrakan menuju bandara.

Ayah yang lagi tidur ku bangunin secara membabibuta buat nganter ke bandara (makasih juga Ayah yang biar ngantuk tetep konsentrasi bawa motornya). Bos aga and kang asep udah nunggu di bandara dengan teror sms dan miskolnya (hu hu hu hu).

Waktu bentar lagi mo buka saat pesawat adam air yang bakal membawaku berangkat ke jakarta tiba. Kang asep beliin nasi padang buat buka di pesawat. Singkat cerita kita dah sampe di sukarno hatta en beberapa saat kemudian dah di atas pesawat lagi menuju polonia medan. dua jam di atas awan man! mana cuacanya gak ramah lagi….gruduk….gruduk…..gruduk…. hmmm mirip bus melintasi jalanan terjal.Allah….jantungku kembang kempis kaya balon. Syukur landing lancar gak ada apa-apa.

Indra udah nongkrong di bandara en siap bawa kang asep and aku ke hotel garuda plaza. Sampe di hotel simpan barang, shalat langsung cabut lagi coz harus gladi buat hari minggu. ampe jam 12.30. hu hu hu ngantuk mak…. makan dulu baru pulang.

Sampe hotel ada internet gratis ya udah nulis catatan dulu di blog…lumayan dah lama gak nulis
ngelancarin. Balik kamar susah tidur karena dah lewat jam tidur. Beberapa menit kemudian udah waktu sahur ya udah dengan kepala seberat truk aku turun en makan sahur abis itu shalat en nulis lagi. Kang asep masih di masjid tadi aku tinggalin coz aku dah ngantuk. Tragisnya kunci kamar dibawa dia dari pada bengon sambil ngantuk mending nulis di FS….

horas bah met pagi medan met pagi dunia hari ini puasa hari ke tiga.

(penulis: Fely JV. 15 September 2007)

tur promo

September 14th, 2007 by justicevoice

Jadwal Tur Promo album "Jangan Mepet-Mepet" Justice Voice:

* 06 September 2007  Live at Show Biz Metro TV
* 1-30 Ramadhan 1428 Figuran at adzan maghrib Indosiar
* 14-18 September 2007 Live at Ramadhan Fair Medan & kunjungan ke media-media massa di Medan
* 16 September 2007 tayang at Liputan 6 SCTV (tapping)
* 20 September 2007 Live at Sahur Indosiar
* Djarum Tur Ramadhan with Sheila on 7:
  - 21 September 2007 Batang,
  - 23 September 2007 Slawi,
  - 25 September 2007 Purwokerto,
  - 03 Oktober 2007 Sragen,
  - 05 Oktober 2007 Wonogiri,
  - 06 Oktober 2007 Semarang.
* 22, 23, & 25 September 2007 “KOMPAS GRAMEDIA RAMADHAN SALE 2007”at Galeria Mall Yogya
* Parade Bedug Sampoerna Hijau: 
   - 26 September 2007 Cirebon,
   - 27 September 2007 Tegal,
   - 29 September 2007 Malang,
   - 30 September 2007 Surabaya,
   - 01 Oktober 2007 Solo,
   - 02 Oktober 2007 Yogya.
* I-Radio Yogya off air, ngabuburit: 20, 27, & 28 September 2007
* 22 September 2007 Audiensi dengan HU Kedaulatan Rakyat
* 23 September 2007 Live at MQ FM Yogya
* 28 September 2007 MTQ Pekanbaru
* 04 Oktober 2007 Kampus Surya Global Yogya
* 05 Oktober 2007 Indosat Yogya
* 06 Oktober 2007 Honda Semarang
* 07 Oktober 2007 Ramadhan Fair Batam

* Jadwal ini bersifat progresif menyesuaikan dengan keadaan.
* Jadwal lanjutan masih terus di update. Ini data sampai 27 September 2007

Album Baru “Jangan Mepet-Mepet”

September 14th, 2007 by justicevoice

Album Baru Justice Voice di Bulan Ramadhan
Minggu, 09 September 2007

Mungkin ini berkah di bulan Ramadhan. Kelompok nasyid Justice Voice, minggu ini meluncurkan album baru dan tentu saja, undangan makin ngalir

Dihidayatullahcom_1

Hidayatulllah.com–Menyambut Ramadhan yang mulia, grup Justice Voice membuat sebuah album relijius yang mengambil judul “Jangan Mepet-Mepet”. Dalam pengerjaan album terbarunya yang sebenarnya sudah direncanakan sejak setahun yang lalu ini, para personil Justice Voice harus marathon membagi waktu antara kerja, kuliah, jadwal latihan dan jadwal rekaman.

Keseluruhan lagu dalam album ini direkam dibeberapa studio di Yogya, sebagai kota asal grup ini, agar memudahkan personil mengatur jadwal mereka. Justice Voice sendiri terdiri dari Asep (Vocal), Eko (Suara Dua), Faris (Vocal), Fely (Bariton), Fatah (Harmoni), Wahyu (Bas), dan memiliki basic acapella, sehingga meskipun album ini diiringi musik akan tetapi para personil tetap mempertahankan sisi acapella dalam vocal ditiap lagu.

Dalam album ini terdiri dari 9 buah lagu, yang didominasi lagu-lagu ceria tetapi tetap memberikan ruang kepada lagu-lagu yang lebih syahdu. Termasuk didalamnya terdapat sebuah lagu yang berbahasa Inggris.

Justice Voice juga berusaha membuat album ini sekocak mungkin, meskipun tetap memiliki beberapa lagu yang bernuansa syahdu, hal ini untuk mempertahankan idealisme funky tapi syar’i yang diusung grup ini.

Sebenarnya, Ramadhan ini, kelompok musik nasyid ini mendapat kesempatan ke luar negeri guna menghadiri ASEAN International Nasheed Festival Egypt pada tanggal 11-12 September 2007 mendatang. Sayangnya, karena ada masalah, undangan ini ditunda hingga lebaran. [aga/cha/www.hidayatullah.com]

Konser Amal Persaudaraan 3

August 12th, 2007 by justicevoice

Dari Calung sampai Rap, Dari Etnik sampai Elektronik
Konser Amal Persaudaraan 3

 

Hari Minggu tanggal 29 Juli 2007 di lapang Gasibu Bandung ada
suatu bentuk acara hiburan yang berbeda dari event-event lain yang
pernah digelar di lapang ini. Sepintas mungkin orang akan mengira itu
pertunjukan musik biasa, karena memang terdengar ada irama pop, jazz
dan juga rap. Tapi event yang digelar oleh 90.9 Lita FM dalam rangka
Milad yang ke-35 tahun ini kental dengan nuansa religius. Memang sudah
menjadi ciri khas Lita FM, menjadikan momentum Milad (hari jadi) dengan
menggelar acara bernuansa religi dan amal.

Sesuai namanya, Konser Amal Persaudaraan 3 (KAP 3) “Nikmatnya
Berbagi Ada Disini” selain sebagai acara hiburan bagi masyarakat luas,
moment ini dimanfaatkan pula untuk mengumpulkan dana yang akan
disumbangkan ke 25 yayasan sosial yang ada di kota Bandung dan
sekitarnya. Diantaranya, Rumah Zakat Indonesia, PKPU Jabar, Panti
Asuhan Anak Muhammadiyah, Pengadaan Al-Qur’an Braille dan lain-lain.
Acara yang dimulai sekitar pukul 06.45 wib ini tidak hanya ditonton
oleh masyarakat pecinta nasyid saja, tetapi terlihat banyak masyarakat
umum yang mengikuti acara dari awal sampai akhir. Hal ini dikarenakan
acara dikemas dengan keragaman jenis musik yang ditampilkan para
pengisi acara, dari mulai yang memakai alat musik etnik hingga
elektrik. Ada Hawari yang kental dengan irama Melayunya, Tashiru dengan
beat R&B yang dinamis, shaffix yang ngeband, Ebith Beat* A yang
ngerap, edCoustic yang eazy listening, ada Justice Voice
yang kocak, Wafiq Azizah dengan shalawatnya, Rafli Aceh dengan lagu
bahasa Acehnya, Caroks dengan calungnya dan masih banyak lagi
penampilan yang menarik dari acara ini ditambah lagi dengan kehadiran
Ustadz Jefri Al-Buchori (Uje) dan Opick.

Ada yang istimewa dari KAP 3 ini, acara dibuka secara resmi oleh ketua
MPR RI HM. Hidayat Nurwahid. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa
Indonesia akan menjadi negara yang adil dan makmur bila masyarakatnya
mendapatkan informasi yang bermanfaat dan mencerdaskan. Radio sebagai
salah satu media yang mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat
menjadi bagian penting dalam rangka mewujudkan hal tersebut.

Sementara itu, 2 paket umroh yang disediakan diraih oleh Bapak Agus Eka
Prihatin dari Cicadas dan Ibu Lilis Patimah dari Babakan Garut.
Direncanakan kedua pemenang akan berangkat ke tanah suci pada bulan
Agustus 2007, didampingi oleh ketua pelaksana Konser Amal, Hj. Rinna
Mayasari (ddn)

(source: http://www.radiolitafm.com/hal_utama.htm)

Harga Murah Ajakan ke Surga

August 1st, 2007 by justicevoice

Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?

Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.

Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.

Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?

Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.

Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.

Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”

***

Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga.


penulis: Bayu Gautama
30 Jul 07 08:42 WIB
http://www.eramuslim.com

Harga Murah Ajakan ke Surga

August 1st, 2007 by justicevoice

Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?

Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.

Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.

Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?

Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.

Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.

Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”

***

Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga.

penulis: Bayu Gautama
30 Jul 07 08:42 WIB
http://www.eramuslim.com

TIM JV Sudah Rekaman 4 Lagu

July 16th, 2007 by justicevoice

SETIAP kali melihat konsernya tim nasyid
Justice Voice (JV) asal Yogyakarta pasti menemukan guyonan segar.
Pasalnya, saat di panggung ada saja materi lelucon yang disampaikan.
Bahkan ketika melantunkan lagu nasyid, sejumlah personel sering membuat
gerakan-gerakan spontan dan tetap sambil bernyanyi. Tak jarang juga tim
JV memanggil perwakilan penonton kemudian jadi ‘bulan-bulanan’
tanya-jawab, tapi akhirnya mendapatkan doorprize seperti gantungan
kunci, bros maupun stiker.

Tim nasyid yang digawangi Faris, Asep, Fely, Fatah, Eko dan Wahyu
ini memilih jalur acapella. Meski begitu lagu-lagu yang ditampilkan
enak dinikmati, sebab dalam lagu-lagunya ada nuansa musik etnik,
balada, pop, rap maupun dangdut. Tim JV pun cukup lihai mengolah
lagu-lagu dari yang melankolis sampai ceria, namun tetap bermakna.
Selain itu sebagian besar lag-lagu JV lebih fokus pada dunia remaja.

“Sekarang ini kami sedang rekaman lagu-lagu baru. Sudah 4 lagu yang berhasil kami selesaikan,” ungkap Manajer JV, M Aga Sukamdo.

Kepada Merapi, Aga mengungkapkan Ramadan tahun ini JV akan berusaha
mengeluarkan album rekaman. Entah itu bersifat indie label maupun major
label. Beberapa album indie label milik JV antara lain yang bertitel
Baru Gede (2001), Lihat Dunia (2002), Agar Cinta Bersemi indah (Album
Kolaborasi; 2003) dan Berhenti Sejenak (2005). Sedang album major
labelnya, yakni Senyum Dong Fren (2003).

“Kami berharap album baru tahun ini dapat diproduksi secara major label,” jelasnya.

Ditambahkan, hampir tiap hari personel JV sekarang ini rekaman di
salah satu studio musik di kawasan Gejayan Yogyakarta. Jika semua lagu
selesai direkam akan dibawa ke produsen kaset. Tak kalah menarik,
menurut rencana, Icha Jikustik dan Sakti (mantan personel Sheila on 7)
akan turut menyumbangkan lagu-lagu religiusnya. Kita tunggu saja
nanti…!    (W-3)-z

(Source: Merapi edisi Cetak, 15 Juni 2007)

JV Garap Album Baru Bersama Sakti SO7

July 16th, 2007 by justicevoice

GRUP nasyid Justice Voice (JV) asal
Yogyakarta kini tengah menjadi idola baru bagi para pecinta nasyid
tanah air. Mereka kerap jadi bintang tamu pada acara Pildacil Lativi,
Pemilihan Dai TPI, dan dewan juri pada Festival Nasyid di Indosiar
bulan Ramadan lalu.

Menurut Asep, salah seorang personel JV seusai pentas di Gedung Nusa
Bahari Kota Tegal saat menjadi bintang tamu dalam pameran Tegal Expo
& Book Fair 2007 beberapa waktu lalu, JV siap menggarap album baru.
“Dalam album baru ini kami akan berkolaborasi dengan Ica Jikustik dan
Sakti Sheila On 7 (S07)” ujarAsep.

Alasan menggaet Ica Jikustik dan Sakti S07, kata Asep agar memberi
suasana baru di dalam racikan lagu-lagunya. “Nantinya Ica maupun Sakti
akan mengisi pada aransemen gitarnya,” ujar Asep.

Personel JV yang terdiri dari para mahasiswa yang kuliah di
Yogyakarta tersebut antara lain Fariz, Asep, Fatah, Fely, Eko dalam
membawakan lagu nasyid di atas panggung memang tidak sebagaimana
grup-grup nasyid lainnya. Mereka di tengah-tengah pentas selalu memberi
humor-humor segar khas lawakan anak muda Yogya, kadang diselingi
pantomim sehingga membuat audiens merasa terhibur, tidak hanya oleh
kemerduan suara mereka, melainkan performa mereka. Dan JV berdiri tahun
2001, akan memulai rekaman untuk album keenamnya bulan Mei 2007 ini.
“Insya Allah nanti menjelang bulan Ramadan nanti atau sekitar bulan
September 2007 album terbaru kami bisa kelar,” kata Asep.    (Ero)-m

(source: Kedaulatan Rakyat versi Cetak, 20 Mei 2007)

Nilai 10 Dapat Rp 250 Ribu

July 1st, 2007 by justicevoice

Minggu 30/06/2007  14:06:50
                        

Nilai 10 Dapat Rp 250 Ribu

Surabaya – Surabaya Post
Enak, memang, jadi orang berprestasi. Mendapat nilai sempurna, dapat hadiah Rp 250 ribu. Itulah bukti terima kasih SMP Al Hikmah Surabaya pada siswanya yang berprestasi. Selain uang tunai, para siswa yang berprestasi juga mendapat piagam penghargaan.
“Ini wujud terima kasih kami kepada siswa berprestasi. Selain itu, dengan adanya hadiah seperti ini diharapkan siswa semakin giat belajar,” ujar Shohilul Arif, ketua panitia kelulusan SMP Al Hikmah, Sabtu (30/6) siang.

Ada 34 siswa yang berhak mendapatkan hadiah itu. “Siapapun yang mendapatkan nilai 10 dalam Unas (Ujian Nasional) kemarin di setiap mata pelajarannya akan mendapatkan hadiah tersebut. Kalau satu anak mendapatkan nilai 10 dua kali, otomatis dia akan mendapatkan uang tunah Rp. 500 ribu,”tukasnya. 

Tak hanya berprestasi dalam bidang akademik, sebagian siswa SMP yang terletak di perumahan Gayungsari Elveka ini juga mendapatkan kesempatan unjuk gigi. Salah satunya khataman beserta terjemahan juz pertama Alquran yang diikuti 16 siswa terbaik. 

“Undangan yang datang juga mendapatkan kesempatan bertanya langsung kepada 16 siswa tentang arti ayat demi ayat di juz pertama Alquran itu,” imbuhnya.

Tentu saja kesempatan ini tak disia-siakan. Seratusan undangan yang hadir antusias melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Usai, sesi tanya jawab dilanjutkan dengan pertunjukan nasyid dari Justice Voice asal Jogjakarta.

Di bagian belakang kursi pengunjung juga terpampang berbagai macam lukisan karya siswa kelas 7 dan 8. Selain itu, tepat di sebelah kiri karya lukis terpajang dengan rapi, berbagai macam karya ilmiah siswa siswinya. Salah satunya alat untuk mematikan lampu otomatis yang dapat di-remote dari telepon genggam karya M. Fitroh Heriansyahputra. Selain itu juga terdapat beberapa karya siswa lainnya seperti sensor pembuka pintu otomatis, saklar lampu otomatis, serta karya tulis ilmiah lainnya.

Tak hanya di SMP Al Hikmah, SD Al Hikmah juga tidak mau ketinggalan. Sekolah yang letaknya 500 meter ke arah timur ini juga melakukan hal serupa. “Ini sebagai wujud terima kasih kami setelah semua siswa kami lulus Unas beberapa waktu lalu,” kata Muhamad Yasin, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

Uniknya, tutur Yasin, siswa SD ini pengumunannya diberikan dalam bentuk amplop. Setelah membaca isisnya kalau mereka lulus, kemudian siswa mengisi sendiri amplop tersebut secara sukarela. “Dan Alhmdulillah kami mendapatkan uang sumbangan sebesar Rp. 5 juta dari total 183 siswa. Selanjutnya uang tersebut diberikan kepada yayasan yatim piatu Ittaqu, Menanggal, Surabaya,” tambahnya. 

Sementara di bagian luar ruangan, kita akan disuguhi berbagai macam gambar lukisan karya anak kelas 4 dan 5. Isinya variatif, mulai kaligrafi hingga panorama. Lukisan ini juga dijual, harganya Rp 200-500 ribu. (dra)

(source: http://www.surabayapost.info)

Pentas Seni ‘Lolly Pop’ SMAN 1

June 26th, 2007 by justicevoice

Tuesday, 26 June 2007, Rubrikasi - Kaca
Pentas Seni ‘Lolly Pop’ SMAN 1 

PENTAS seni tutup tahun 2007 SMAN 1 Yogya bertajuk ‘Lolly Pop’ (persahabatan dalam warna-warni) di gedung STIM YKPN, Jl Palagan Tentara Pelajar Km 7 Sleman, Sabtu (23/6) malam berlangsung semarak. Pentas itu sebagai ungkapan berita kegembiraan kelulusan 100 persen di SMAN 1.

Pentas seni tutup tahun tersebut menampilkan band-band indie Yogya seperti Crossbottom, Justice Voice dan Shakey. Selain itu dimeriahkan penampilan Bitter Strawberry, Banana Shake, Florits, Zero Ansamble Musik, Teater Nila Pangkaja, Karawitan dan penampilan Kasat.

Kesemarakan suasana cukup terasa saat pemutaran film dokumenter karya siswa SMAN 1. Apalagi kelucuan, keceriaan dan kehidupan semasa menempuh pendidikan di SMAN 1 tampak terlihat di film. Dalam film itu pula terlihat warna-warni kehidupan yang cukup mengesankan.

Ketua Panitia, Bryan Whildan A melalui Dhara Indah KJ mengatakan, pentas seni tutup tahun yang didukung SKH Kedaulatan Rakyat tersebut merupakan program rutin tahunan di SMAN 1. Tujuannya untuk memberikan kesan yang mendalam bagi siswa-siswi kelas XII yang akan meninggalkan SMAN 1.

"Untuk tahun ini kami memang sengaja mengambil tema ‘Lolly_Pop’ persahabatan dalam warna-warni. Tema ini dianggap mampu menyatakan unsur-unsur kehidupan SMAN 1 yang penuh dengan warna-warni dan kedinamisan di dalamnya," ujar Dhara. (Agus Suwarto)-s.

(source: www.kr.co.id)