Archive for August, 2007

Konser Amal Persaudaraan 3

Sunday, August 12th, 2007

Dari Calung sampai Rap, Dari Etnik sampai Elektronik
Konser Amal Persaudaraan 3

 

Hari Minggu tanggal 29 Juli 2007 di lapang Gasibu Bandung ada
suatu bentuk acara hiburan yang berbeda dari event-event lain yang
pernah digelar di lapang ini. Sepintas mungkin orang akan mengira itu
pertunjukan musik biasa, karena memang terdengar ada irama pop, jazz
dan juga rap. Tapi event yang digelar oleh 90.9 Lita FM dalam rangka
Milad yang ke-35 tahun ini kental dengan nuansa religius. Memang sudah
menjadi ciri khas Lita FM, menjadikan momentum Milad (hari jadi) dengan
menggelar acara bernuansa religi dan amal.

Sesuai namanya, Konser Amal Persaudaraan 3 (KAP 3) “Nikmatnya
Berbagi Ada Disini” selain sebagai acara hiburan bagi masyarakat luas,
moment ini dimanfaatkan pula untuk mengumpulkan dana yang akan
disumbangkan ke 25 yayasan sosial yang ada di kota Bandung dan
sekitarnya. Diantaranya, Rumah Zakat Indonesia, PKPU Jabar, Panti
Asuhan Anak Muhammadiyah, Pengadaan Al-Qur’an Braille dan lain-lain.
Acara yang dimulai sekitar pukul 06.45 wib ini tidak hanya ditonton
oleh masyarakat pecinta nasyid saja, tetapi terlihat banyak masyarakat
umum yang mengikuti acara dari awal sampai akhir. Hal ini dikarenakan
acara dikemas dengan keragaman jenis musik yang ditampilkan para
pengisi acara, dari mulai yang memakai alat musik etnik hingga
elektrik. Ada Hawari yang kental dengan irama Melayunya, Tashiru dengan
beat R&B yang dinamis, shaffix yang ngeband, Ebith Beat* A yang
ngerap, edCoustic yang eazy listening, ada Justice Voice
yang kocak, Wafiq Azizah dengan shalawatnya, Rafli Aceh dengan lagu
bahasa Acehnya, Caroks dengan calungnya dan masih banyak lagi
penampilan yang menarik dari acara ini ditambah lagi dengan kehadiran
Ustadz Jefri Al-Buchori (Uje) dan Opick.

Ada yang istimewa dari KAP 3 ini, acara dibuka secara resmi oleh ketua
MPR RI HM. Hidayat Nurwahid. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa
Indonesia akan menjadi negara yang adil dan makmur bila masyarakatnya
mendapatkan informasi yang bermanfaat dan mencerdaskan. Radio sebagai
salah satu media yang mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat
menjadi bagian penting dalam rangka mewujudkan hal tersebut.

Sementara itu, 2 paket umroh yang disediakan diraih oleh Bapak Agus Eka
Prihatin dari Cicadas dan Ibu Lilis Patimah dari Babakan Garut.
Direncanakan kedua pemenang akan berangkat ke tanah suci pada bulan
Agustus 2007, didampingi oleh ketua pelaksana Konser Amal, Hj. Rinna
Mayasari (ddn)

(source: http://www.radiolitafm.com/hal_utama.htm)

Harga Murah Ajakan ke Surga

Wednesday, August 1st, 2007

Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?

Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.

Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.

Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?

Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.

Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.

Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”

***

Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga.


penulis: Bayu Gautama
30 Jul 07 08:42 WIB
http://www.eramuslim.com

Harga Murah Ajakan ke Surga

Wednesday, August 1st, 2007

Seingat saya, sekitar tahun 2001, saya dan kawan-kawan berencana mengundang Hadad Alwi dan duetnya, Sulis, untuk mengisi acara di sebuah acara keagamaan. Berhubung kamit tidak punya kontak langsung dengan pelantun shalawat yang tengah ngetop saat itu, maka kami bertanya kepada salah seorang teman yang mengaku punya akses. Namun kami sungguh terperangah mendengar informasi dari rekan tersebut bahwa untuk mengundang Hadad Alwi dan Sulis, harus menyiapkan dana tidak kurang dari 8 juta rupiah. Ketika itu, komentar singkat yang keluar dari mulut saya, “Dakwah kok mahal amat sih?

Dua tahun sebelumnya, bahkan saya dan kawan-kawan sempat tak kalah terperangahnya mendengar sebuah informasi yang memang harus dikonfirmasi kebenarannya. Bahwa untuk mengundang Aa Gym berceramah dalam sebuah tabligh perlu dana yang tak sedikit. “Wah, masak ustadz pasang tarif setinggi itu sih?” kira-kira begitu komentar saya saat itu.

Seiring dengan bertambahnya pemahaman diri ini akan penting dan strategisnya nilai dakwah, perlahan mulai bergeser pemikiran saya soal “harga” para ustadz tersebut. Ya, kenapa orang bersedia membayar mahal untuk menyelenggarakan konser musik rock atau dangdut dengan mengundang artis-artis hanya untuk berjingkrak-jingkrak dan bergoyang hingga larut malam bahkan sampai pagi.

Tidak sedikit orang rela merogoh kocek hingga ratusan ribu, sehingga memungkinkan panitia membayar sebuah grup band atau seorang penyanyi dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal para artis itu hanya mengajak orang-orang yang menontonnya untuk berjoget, bergoyang, berjingkrak-jingkrak dan sesekali ikut menyanyi. Bandingkan dengan para ustadz yang berceramah memberikan nasihat-nasihat kebaikan, mengajak kebenaran dan kalau boleh dibilang mendekatkan para jamaahnya kepada pintu surga. Berapa yang disiapkan panitia untuk membayar seorang mubaligh?

Kasihan sekali para da’i di kampung-kampung yang setiap hari menjalankan tugas mulia mengajak orang kepada kebaikan namun hanya mendapat bayaran ala kadarnya, bahkan tak jarang berbalas ucapan “terima kasih”. Bahkan penyanyi dangdut kampung pun bisa mendapatkan 200 sampai 500 ribu untuk tampil satu malam di sebuah hajatan pernikahan.

Tidak adil memang, orang-orang yang tak mengajak kepada kebaikan dibayar sangat mahal. Sementara mereka yang berpeluh, meneriakkan kebenaran seraya mengingatkan larangan-larangan Allah seringkali dilabeli harga yang tidak manusiawi. Terlepas dari adanya ustadz-ustadz yang berharga tinggi dan merangkap selebritis sekaligus, dalam level yang lainnya, kita memang kurang menghargai jasa mulia seorang da’i.

Saya pernah mendengar cerita, dalam sebuah kesempatan Opick, pelantun tembang religius yang sangat terkenal itu mendapat pertanyaan dari seseorang, “Apa benar untuk mengundang Opick harus membayar Rp 5 juta untuk setiap lagu yang dinyanyikan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, yang ditanya menjawabnya dengan serius, “Salah, yang benar Rp 15 juta untuk setiap lagu. Masak saya kalah sama Inul…”

***

Sebenarnya, ini bukan tentang berapa jumlahnya yang harus kita bayarkan untuk seorang ustadz, muballigh atau da’i. Ini lebih tentang bagaimana kita memuliakan orang-orang yang membantu kita untuk terus mengingat Allah. Semoga.

penulis: Bayu Gautama
30 Jul 07 08:42 WIB
http://www.eramuslim.com