Archive for May, 2007

REFLEKSI 1 TAHUN YOGYA PASCA GEMPA

Sunday, May 27th, 2007

Friday, 25 May 2007, Yogyakarta
REFLEKSI 1 TAHUN YOGYA PASCA GEMPA; SMAN 2 Gelar Tabligh Akbar dan Bazar
(source: www.kr.co.id)

YOGYA (KR) - Menuntut ilmu merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim. Pasalnya kegiatan apapun tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik jika tidak dilandasi dengan ilmu. Menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan bagi seorang muslim, SMA Negeri 2 Yogyakarta bekerjasama dengan SKH Kedaulatan Rakyat akan mengadakan kegiatan tabligh akbar 2007 dan bazar dengan tema ‘Refleksi 1 Tahun Yogya Pasca Gempa’ di halaman sekolah setempat, Minggu (27/5).

Menurut ketua panitia kegiatan Ahmad Tohani, selain mempertebal keimanan dan ketakwaan. Acara tabligh akbar dan bazar itu juga bertujuan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan ikatan silaturahmi khususnya di lingkungan SMAN 2 Yogyakarta.

Sehingga bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berakhlak Qurani. Bahkan agar hasilnya bisa optimal panitia sengaja mengundang beberapa narasumber yang berkompeten dibidangnya. Seperti Alifah Pildacil, Ust Sigit Yulianto dan grup nasyid Justice Voice.

“Selain siswa SMAN 2 dan masyarakat sekitar, dalam kegiatan itu kami juga mengundang siswa muslim SMA se-Kota Yogyakarta. Dengan begitu selain wawasan bisa semakin berkembang, kami berharap rasa solidaritas dan kepekaan sosial khususnya dikalangan peserta didik bisa meningkat. Sehingga bisa meringankan beban masyarakat yang ada di lokasi bencana,” terangnya. (R-5)-f.

Rindu Abah

Saturday, May 5th, 2007

Kemarin saya sms adik. Bertanya tentang keadaan Abah (ayah
saya). Kabar dari adik mengatakan kalau Abah masih sakit.
Batuk-batuk dan nggak bisa tidur. Susah makan dan sekarang
kondisinya sangat kurus. Beberapa hari lalu baru di rawat
di RS selama 4 hari.

Hati saya jadi sangant sedih. Sudah lama saya tidak
bertemu Abah. Lelaki tua yang selama ini menjadi ayah
saya.

Tiba-tiba terbit rasa khawatir dalam diri. Belum sempat
saya berbakti. Jangankan untuk memberi Abah sesuatu, malah
setiap pulang saya masih dibekali.
Yah..Abah….Lelaki hebat itu!

Di mata saya Abah adalah sosok yang disiplin dan pekerja
keras. Ia selalu mengerjakan setiap tugasnya dengan tulus.
Dulu ketika beliau belum pensiun dan masih kerja di Dinas
P dan K (kalau sekarang Dinas Pendidikan Nasional)
anak-anaknya sering protes. Abah sering membawa pekerjaan
kantor ke rumah. Setelah itu ia mengerjakan semua itu
hingga larut malam. Dan keadaan itu bisa beberapa minggu.
Padahal sama sekali tidak ada uang lebur. Bahkan perhatian
dari teman-teman sekantornya pun tidak ada. Bukan hanya
itu Abah juga sosok yang “cinta” kantor. Walau bukan
tugasnya setiap pagi ia biasa membukakan pintu kantor dan
menyapunya. Semua ia lakukan tanpa imbalan apapun.
Pernah kami (anak-anak Abah) bertanya kenapa sih Abah mau
melakukan itu semua, padahal teman kantornya banyak yang
datang jam 9 pulang jam 11 (yah maklum pegawai negri)?
Abah menjawab “Siapa lagi yang mau mengerjakan?”.
Pernah suatu ketika Abah sakit dan tidak masuk kantor.
Maksunya sih mau istirahat. Tapi apa boleh buat pekerjaan
kantor berdatangan ke rumah. Abah pun mengerjakanya
sembari berbaring di kasur. Itu lah Abah, di saat orang
lain bersantai dan beleha-leha dalam bekerja ia tetap
melakukanya dengan baik.

Abah juga sosok yang disiplin. Meski dulu waktu kecil saya
lebih mengartikanya Abah itu galak. Dulu ketika kecil
kalau saya dan kakak-kakak tidak mau mengaji, pasti Abah
akan marah besar. Bila kami masih main di lapangan di saat
waktu mengaji datang Abah akan menyusul dan menggiring
kami sampi berangkat ngaji. Abah juga tidak pernah
memperbolehkan anaknya main lebih dari magrib. Habis
magrib seluruh keluarga harus berkumpul. Tidak ada alasan
untuk pergi, kecuali untuk mengaji. Bila ada yang
melanggar pasti kena marah. Sempat saya merasa Abah
terlalu galak. Abah tidak sayang sama saya. Tapi perasaan
itu berangsur hilang ketika saya mulai mengerti manfaat
dari semua yang beliau lakukan. Betapa kalau saya dulu
dibiarkan tak mengaji mungkin sampai sekarang saya tak
bisa baca Al-Quran tak mau belajar dan tak mungkin bisa
lulus sarjana dari perguruan tinggi negri yang cukup
ternama.

Sekarang setelah sekian lama berpisah dengan belaiau, saya
semakin sadar betapa kasih sayang yang ia berikan tiada
henti-hentinya. Biaya hidup yang selama ini ia berikan
untuk kuliah dan makan saya di Yogya bukanlah perkara
mudah buatnya. Tapi tak sepatah keluhpun ia ucapkan pada
saya. Tak pernah ia meminta saya untuk mencukupinya
sendiri. Ia terus percaya pada saya meski terkadang
sayalah yang tidak mejaga amanahnya.

Abah, sosok ayah yang tak banyak bicara. Ia mengajari
anak-anaknya dengan cara memberi contoh. Baimana ia
bekerja keras. Bersikap tulus. Sebagai anak saya jarang
sekali emndapat nasehat panjang lebar darinya. Tapi dari
pa yang ia lakukan saya bisa banyak belajar tentang kerja
keras, kejujuran dan ketulusan.

Abah bukan sosok manusia sempurna. Ada banyak sisi yang
mungkin saya juga tak suka. Tapi Abah adalah ayah yang
terbaik bagi saya. Sesosok ayah yang Allah takdirkan untuk
mengawal hidup saya hingga umur saya dewasa kini. Abah
terimakasih atas cinta dan kasih sayangmu selama ini. Saya
yang engkau beri nama Fely Hilman ingin sekali mengucapkan
“Abah, Fely sayang sama Abah,”

Hari mulai sore ketika saya buat tulisan ini. Langit agak
mendung. Suasana yang membuat hati saya semakin gerimis
mengingat Abah yang sedang sakit di Kuningan sana.
Perasaan rindu terus pada Abah terus meluap.
“Ya Allah ampuni dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba
(Abah dan Mamah). Sayangi mereka seperti mereka
menyayangiku di waktu kecil hingga dewasa kini. Allah
bahagiakanlah mereka di dunia dan akhirat kelak. Amin.”

writer: Fely JV

Rindu Abah

Saturday, May 5th, 2007

Kemarin saya sms adik. Bertanya tentang keadaan Abah (ayah
saya). Kabar dari adik mengatakan kalau Abah masih sakit.
Batuk-batuk dan nggak bisa tidur. Susah makan dan sekarang
kondisinya sangat kurus. Beberapa hari lalu baru di rawat
di RS selama 4 hari.

Hati saya jadi sangant sedih. Sudah lama saya tidak
bertemu Abah. Lelaki tua yang selama ini menjadi ayah
saya.

Tiba-tiba terbit rasa khawatir dalam diri. Belum sempat
saya berbakti. Jangankan untuk memberi Abah sesuatu, malah
setiap pulang saya masih dibekali.
Yah..Abah….Lelaki hebat itu!

Di mata saya Abah adalah sosok yang disiplin dan pekerja
keras. Ia selalu mengerjakan setiap tugasnya dengan tulus.
Dulu ketika beliau belum pensiun dan masih kerja di Dinas
P dan K (kalau sekarang Dinas Pendidikan Nasional)
anak-anaknya sering protes. Abah sering membawa pekerjaan
kantor ke rumah. Setelah itu ia mengerjakan semua itu
hingga larut malam. Dan keadaan itu bisa beberapa minggu.
Padahal sama sekali tidak ada uang lebur. Bahkan perhatian
dari teman-teman sekantornya pun tidak ada. Bukan hanya
itu Abah juga sosok yang “cinta” kantor. Walau bukan
tugasnya setiap pagi ia biasa membukakan pintu kantor dan
menyapunya. Semua ia lakukan tanpa imbalan apapun.
Pernah kami (anak-anak Abah) bertanya kenapa sih Abah mau
melakukan itu semua, padahal teman kantornya banyak yang
datang jam 9 pulang jam 11 (yah maklum pegawai negri)?
Abah menjawab “Siapa lagi yang mau mengerjakan?”.
Pernah suatu ketika Abah sakit dan tidak masuk kantor.
Maksunya sih mau istirahat. Tapi apa boleh buat pekerjaan
kantor berdatangan ke rumah. Abah pun mengerjakanya
sembari berbaring di kasur. Itu lah Abah, di saat orang
lain bersantai dan beleha-leha dalam bekerja ia tetap
melakukanya dengan baik.

Abah juga sosok yang disiplin. Meski dulu waktu kecil saya
lebih mengartikanya Abah itu galak. Dulu ketika kecil
kalau saya dan kakak-kakak tidak mau mengaji, pasti Abah
akan marah besar. Bila kami masih main di lapangan di saat
waktu mengaji datang Abah akan menyusul dan menggiring
kami sampi berangkat ngaji. Abah juga tidak pernah
memperbolehkan anaknya main lebih dari magrib. Habis
magrib seluruh keluarga harus berkumpul. Tidak ada alasan
untuk pergi, kecuali untuk mengaji. Bila ada yang
melanggar pasti kena marah. Sempat saya merasa Abah
terlalu galak. Abah tidak sayang sama saya. Tapi perasaan
itu berangsur hilang ketika saya mulai mengerti manfaat
dari semua yang beliau lakukan. Betapa kalau saya dulu
dibiarkan tak mengaji mungkin sampai sekarang saya tak
bisa baca Al-Quran tak mau belajar dan tak mungkin bisa
lulus sarjana dari perguruan tinggi negri yang cukup
ternama.

Sekarang setelah sekian lama berpisah dengan belaiau, saya
semakin sadar betapa kasih sayang yang ia berikan tiada
henti-hentinya. Biaya hidup yang selama ini ia berikan
untuk kuliah dan makan saya di Yogya bukanlah perkara
mudah buatnya. Tapi tak sepatah keluhpun ia ucapkan pada
saya. Tak pernah ia meminta saya untuk mencukupinya
sendiri. Ia terus percaya pada saya meski terkadang
sayalah yang tidak mejaga amanahnya.

Abah, sosok ayah yang tak banyak bicara. Ia mengajari
anak-anaknya dengan cara memberi contoh. Baimana ia
bekerja keras. Bersikap tulus. Sebagai anak saya jarang
sekali emndapat nasehat panjang lebar darinya. Tapi dari
pa yang ia lakukan saya bisa banyak belajar tentang kerja
keras, kejujuran dan ketulusan.

Abah bukan sosok manusia sempurna. Ada banyak sisi yang
mungkin saya juga tak suka. Tapi Abah adalah ayah yang
terbaik bagi saya. Sesosok ayah yang Allah takdirkan untuk
mengawal hidup saya hingga umur saya dewasa kini. Abah
terimakasih atas cinta dan kasih sayangmu selama ini. Saya
yang engkau beri nama Fely Hilman ingin sekali mengucapkan
“Abah, Fely sayang sama Abah,”

Hari mulai sore ketika saya buat tulisan ini. Langit agak
mendung. Suasana yang membuat hati saya semakin gerimis
mengingat Abah yang sedang sakit di Kuningan sana.
Perasaan rindu terus pada Abah terus meluap.
“Ya Allah ampuni dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba
(Abah dan Mamah). Sayangi mereka seperti mereka
menyayangiku di waktu kecil hingga dewasa kini. Allah
bahagiakanlah mereka di dunia dan akhirat kelak. Amin.”

writer: Fely JV